Festival Literasi Ditutup, Gubernur Yulius Ingin Literasi Jadi Budaya Anak Muda Sulut

Kabar-online Sulut. Festival Literasi Sulawesi Utara resmi ditutup di Museum Provinsi Sulawesi Utara, Minggu (4/10/26). Mengusung semangat merawat kearifan dan menciptakan narasi untuk masa depan peradaban, kegiatan ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan sekaligus mengembangkan budaya literasi.

Festival tersebut digagas Ketua Umum Putra Putri Literasi Sulawesi Utara (PPLSU), Standius Bara Prima. Rangkaian penutupan diisi berbagai pertunjukan, di antaranya teater Isbima yang mengangkat karakter Maria Walanda Maramis dalam perjuangan emansipasi perempuan, tari nasional, stand up comedy, serta penampilan musik dari Aditya Sofian, Enda and Reza, dan Coco Lense.

Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus mengapresiasi pelaksanaan Festival Literasi yang dinilainya mampu menarik minat masyarakat, khususnya kalangan anak muda.

Yulius menyebut, berdasarkan laporan panitia, sekitar 3.400 peserta terlibat dalam Festival Literasi tingkat Provinsi Sulawesi Utara. Angka tersebut dinilai menunjukkan peningkatan dibandingkan pelaksanaan sebelumnya.

“Saya bangga kepada para peserta dan finalis Putra-Putri Literasi Sulawesi Utara. Jumlah peserta yang mencapai sekitar 3.400 orang menunjukkan bahwa minat terhadap literasi semakin berkembang,” kata Yulius.

Menurutnya, literasi tidak boleh hanya dipahami sebagai aktivitas membaca dan menulis. Literasi harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk kemampuan memahami, menganalisis dan menghasilkan gagasan yang dapat memberikan solusi bagi masyarakat maupun pemerintah.

Yulius juga memberikan apresiasi terhadap pertunjukan teater yang mengangkat sosok Maria Walanda Maramis. Menurutnya, pertunjukan tersebut menunjukkan bagaimana literasi dapat menjadi sarana untuk mengenalkan kembali sejarah dan tokoh penting Sulawesi Utara kepada generasi muda.

Ia menilai, tanpa kebiasaan membaca dan menulis, generasi muda akan kesulitan memahami berbagai peristiwa dan perjuangan tokoh pada masa lalu.

“Kalau kita tidak rajin menulis dan membaca, kita tidak akan memahami cerita masa lalu. Melalui literasi, sejarah dan berbagai gagasan bisa terus diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

Gubernur Yulius berharap Festival Literasi Sulut tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Ia meminta gerakan literasi terus dikembangkan hingga ke tingkat desa agar budaya membaca, menulis, berpikir kritis dan menghasilkan gagasan dapat tumbuh secara merata.

“Saya berharap bukan hanya sekadar tampil, tetapi terus jalankan literasi di Sulawesi Utara sampai ke tingkat desa-desa,” tegasnya.