Gubernur Yulius Selvanus Dorong Literasi Jadi Gerakan Bersama di Sulawesi Utara

Kabar-online Sulut. Festival Literasi Sulawesi Utara (Sulut) 2026 resmi berakhir. Kegiatan yang mengangkat tema “Merawat Kearifan dan Menciptakan Narasi untuk Masa Depan Peradaban” tersebut ditutup di Museum Negeri Sulawesi Utara, Minggu (4/10/26) malam.

Festival ini menjadi ruang bagi masyarakat, pegiat literasi, komunitas dan generasi muda untuk memperkuat budaya membaca, bertukar gagasan serta mendorong lahirnya karya yang memiliki nilai edukatif dan kebudayaan.

Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus menilai literasi tidak dapat dipahami hanya sebatas kemampuan membaca dan menulis.

Menurutnya, literasi berkaitan erat dengan kemampuan masyarakat dalam memahami berbagai perubahan, menyaring informasi serta membangun cara berpikir yang kritis.
“Peradaban yang maju dan berkeadaban dibangun di atas fondasi literasi yang kokoh,” pesan Yulius.

Ia mengatakan, derasnya perkembangan teknologi dan informasi membuat masyarakat, khususnya generasi muda, harus memiliki kemampuan untuk membedakan informasi yang bermanfaat dan yang tidak.

Di sisi lain, perkembangan zaman juga tidak boleh membuat generasi muda kehilangan pemahaman terhadap sejarah, budaya dan kearifan lokal.

Yulius menegaskan, kemajuan daerah harus berjalan beriringan dengan upaya mempertahankan identitas masyarakat.

Karena itu, budaya literasi dinilai perlu dibangun secara kolektif dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari keluarga, sekolah, perguruan tinggi, komunitas hingga pemerintah.

“Literasi harus menjadi gerakan bersama,” menjadi semangat yang ditekankan dalam pengembangan budaya literasi di Sulawesi Utara.

Festival Literasi Sulut 2026 juga menjadi wadah untuk mempertemukan berbagai gagasan dan kreativitas.

Ruang seperti ini dinilai penting agar generasi muda memiliki kesempatan untuk mengekspresikan ide, menghasilkan karya dan membangun kolaborasi.

Pada kesempatan tersebut, Gubernur Yulius menyampaikan apresiasi kepada Pengurus Putra Putri Literasi Sulawesi Utara (PPLSU), Perpustakaan Nasional, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Sulawesi Utara serta seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan festival.

Menurut Yulius, kegiatan literasi tidak boleh berhenti setelah festival berakhir. Semangat membaca, berdiskusi, berpikir kritis dan menghasilkan karya harus terus berkembang di berbagai lingkungan masyarakat.

Ia berharap momentum Festival Literasi Sulut 2026 dapat menjadi pemicu lahirnya gerakan literasi yang lebih luas dan berkelanjutan.

Bagi Sulawesi Utara, pembangunan sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan zaman.

Infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, kata dia, perlu ditopang masyarakat yang berpengetahuan, berkarakter, kreatif dan memiliki kepedulian terhadap daerah.

Festival Literasi Sulut 2026 pun diharapkan tidak sekadar menjadi agenda tahunan, tetapi mampu meninggalkan gerakan yang terus hidup di sekolah, kampus, keluarga, komunitas dan ruang publik.

Dengan demikian, literasi dapat menjadi salah satu fondasi dalam membentuk generasi Sulawesi Utara yang mampu membaca perkembangan dunia tanpa kehilangan akar budaya dan identitas daerahnya.