Kabar-online Sulut. Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara menegaskan kondisi perekonomian daerah hingga Triwulan I Tahun 2026 masih berada pada jalur yang positif, kuat, dan mampu bertahan di tengah dinamika ekonomi global.
Hal tersebut disampaikan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setdaprov Sulut, Jemmy Ringkuangan, AP, M.Si, yang menyebut capaian ekonomi daerah menunjukkan performa yang stabil dan terus bertumbuh. Rabu (29/4/26).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) serta dukungan analisis dari Bank Indonesia, ekonomi Sulawesi Utara sepanjang tahun 2025 tumbuh sebesar 5,66 persen secara tahunan. Angka ini melampaui rata-rata pertumbuhan nasional yang berada di level 5,39 persen.
Bahkan pada Triwulan IV Tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Sulut tercatat mencapai 5,95 persen secara year-on-year dan 7,02 persen secara quarter-to-quarter. Kondisi ini ditopang oleh meningkatnya belanja pemerintah serta bergeraknya sektor riil di berbagai bidang usaha.
Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku sepanjang tahun 2025 mencapai Rp204,75 triliun. Sementara PDRB per kapita naik menjadi Rp75,24 juta per tahun, yang dinilai mencerminkan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara bertahap.
Dari sisi pembiayaan usaha, hingga akhir Triwulan I Tahun 2026, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) telah mencapai Rp421,97 miliar kepada 4.352 debitur. Sedangkan pembiayaan Ultra Mikro (UMi) tercatat sebesar Rp30,72 miliar yang menjangkau 5.621 debitur.
Menurut Jemmy, akses pembiayaan tersebut menjadi instrumen penting dalam memperkuat sektor riil dan mendorong pertumbuhan UMKM di Sulawesi Utara.
Sektor unggulan juga menunjukkan perkembangan yang signifikan.
Industri pengolahan menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 9,97 persen. Sementara sektor akomodasi dan makan minum tumbuh 20,67 persen, disusul jasa lainnya yang mengalami lonjakan cukup tinggi secara kuartalan.
Kinerja ekspor daerah pun mencatat hasil menggembirakan. Nilai ekspor Sulut mencapai USD 1,23 miliar atau naik 48,31 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Komoditas perikanan dan produk olahan berbasis sumber daya lokal masih menjadi penopang utama.
Di sektor ekonomi digital, transaksi menggunakan QRIS pada Triwulan I Tahun 2026 mencapai Rp1,86 triliun dengan jumlah merchant lebih dari 373 ribu. Sementara ekonomi kreatif menunjukkan lonjakan nilai tambah yang sangat signifikan, bahkan meningkat lebih dari 1.400 persen.
Dari aspek kesejahteraan sosial, tingkat pengangguran terbuka menurun menjadi 5,78 persen. Angka kemiskinan juga turun ke level 6,62 persen, sementara rasio Gini berada di angka 0,341 yang menunjukkan ketimpangan ekonomi semakin mengecil.
Meski demikian, Pemprov Sulut masih memberi perhatian khusus pada kesenjangan antara wilayah perkotaan dan pedesaan, terutama terkait tingkat kemiskinan di desa yang masih relatif tinggi.
Di bawah kepemimpinan Gubernur Sulut Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE dan Wakil Gubernur Dr. J. Victor Mailangkay, SH, MH, pemerintah juga terus memantau dinamika inflasi yang sempat meningkat pada Februari 2026 hingga 4,64 persen secara tahunan akibat gangguan pasokan pangan dan kenaikan harga global.
Namun pada Maret 2026, inflasi berhasil ditekan hingga 2,20 persen, yang dinilai menjadi bukti efektivitas langkah pengendalian yang dilakukan pemerintah daerah.
“Ekonomi Sulawesi Utara saat ini berada dalam kondisi yang kuat dan terus bertumbuh. Kita tidak hanya mampu bertahan di tengah dinamika global, tetapi juga menunjukkan ekspansi yang sehat.
Namun demikian, kita tidak boleh lengah, khususnya terhadap tekanan inflasi dan kesenjangan wilayah,” ujar Jemmy Ringkuangan.
Ia menambahkan, ke depan Pemprov Sulut akan terus memperkuat strategi pengendalian inflasi melalui stabilisasi pasokan dan distribusi pangan, mendorong hilirisasi industri berbasis sumber daya lokal, memperluas konektivitas regional, nasional maupun internasional, serta mempercepat pengembangan ekonomi biru dan ekonomi kreatif.
Dengan fondasi ekonomi yang kuat, diversifikasi sektor unggulan, dan dukungan transformasi digital yang semakin berkembang, Sulawesi Utara diyakini memiliki prospek cerah untuk terus tumbuh secara inklusif dan berkelanjutan.
“Ekonomi Sulut tangguh, inflasi tetap terkendali, dan pertumbuhan berlanjut,” tegas Jemmy.
