Kabar-online Sulut. Di saat perekonomian global masih dibayangi ketidakpastian, Provinsi Sulawesi Utara justru mampu mencatatkan kinerja ekonomi yang solid sepanjang tahun 2025.
Pertumbuhan ekonomi yang terjaga ini turut diikuti dengan perbaikan kondisi ketenagakerjaan, penurunan angka kemiskinan, serta ketimpangan pendapatan yang kian mengecil.
Berdasarkan rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulut atas dasar harga berlaku pada 2025 mencapai Rp204,75 triliun. Sementara PDRB atas dasar harga konstan 2010 tercatat sebesar Rp113,66 triliun.
Secara kumulatif, ekonomi Sulut tumbuh sebesar 5,66 persen (c-to-c) dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari sisi lapangan usaha, sektor Industri Pengolahan menjadi penggerak utama dengan pertumbuhan tertinggi mencapai 9,97 persen. Adapun dari sisi pengeluaran, kinerja ekspor luar negeri melonjak signifikan hingga 28,42 persen, mencerminkan semakin kuatnya daya saing produk Sulut di pasar internasional.
Performa ekonomi Sulut juga semakin agresif pada akhir tahun. Pada Triwulan IV 2025, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,95 persen secara tahunan (year-on-year).
Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi dengan laju 20,67 persen, sejalan dengan bangkitnya sektor pariwisata dan meningkatnya aktivitas UMKM kuliner.
Secara kuartalan (quarter-to-quarter), ekonomi Sulut tumbuh 7,02 persen. Capaian ini didorong oleh lonjakan belanja pemerintah yang meningkat 21,75 persen serta pertumbuhan sektor jasa lainnya yang mencapai 20,61 persen.
Dari sisi ketenagakerjaan, kondisi juga menunjukkan tren positif. Jumlah angkatan kerja pada November 2025 tercatat sebanyak 1,43 juta orang, meningkat dibandingkan periode Agustus. Jumlah penduduk bekerja naik menjadi 1,35 juta orang, dengan sektor pengadaan listrik, air, dan gas menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar.
Kualitas pekerjaan pun mengalami perbaikan. Persentase pekerja formal meningkat menjadi 46,93 persen. Seiring dengan itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berhasil ditekan hingga 5,78 persen, turun 0,21 persen poin dibandingkan periode sebelumnya.
Tak hanya pertumbuhan ekonomi dan ketenagakerjaan, aspek kesejahteraan sosial juga mengalami kemajuan. Persentase penduduk miskin di Sulut pada September 2025 tercatat sebesar 6,62 persen, turun 0,09 persen poin dibandingkan Maret 2025. Penurunan kemiskinan cukup signifikan terjadi di wilayah perkotaan yang mencapai 3,95 persen, sementara wilayah perdesaan masih berada di angka 10,11 persen dan menjadi fokus perhatian pemerintah.
Tingkat ketimpangan pengeluaran masyarakat atau gini ratio juga menunjukkan perbaikan dengan angka 0,341, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.
Berdasarkan ukuran Bank Dunia, kelompok 40 persen terbawah kini menikmati sekitar 19,90 persen dari total pengeluaran masyarakat, menandakan hasil pertumbuhan mulai dirasakan lebih merata.
Menanggapi capaian tersebut, Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE mengingatkan seluruh pemangku kepentingan agar tidak cepat berpuas diri.
Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, forkopimda, sektor swasta, dan masyarakat untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah.
“Pertumbuhan ekonomi Sulut sudah berada di jalur yang tepat. Tugas kita bersama adalah mengawal dan menjaganya agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh seluruh masyarakat,” ujar gubernur.
Dengan pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga, penyerapan tenaga kerja yang meningkat, angka kemiskinan yang menurun, serta ketimpangan yang semakin terkendali, Sulawesi Utara menunjukkan fondasi yang kian kokoh menuju pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan pada tahun 2026.
